Tuesday, September 6, 2011

Manfaat Bulan Syawal


Beberapa hadist yang menjelaskkan manfaat puasa syawal:

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan(puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun ."
(HR. Muslim).
 
Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:
"Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan(puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh."
( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari dibulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. "
(HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.")

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat diantaranya :

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan.
Pada hari kiamat kelak semua perbuatan fardhu akan disempurnakan dengan perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa salam dalam berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, sehingga membutuhkan sesuatu menambal dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan.
Karena apabila Alloh ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan ‘pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya‘. Oleh karena itu barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan kemudian melanjutkan dengan kebaikan yang lain maka hal itu merupakan tanda atas diterimanya amal yang pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.